Mengenai Saya

Ketika kita diam maka semua sepertinya tidak ada persoalan tetapi ketika kita bersuara maka mereka akan tau bahwa kita mempunyai persoalan, yang harus di selesaikan. Kebenaran harus ditegakan, untuk mendapatkan kebenaran harus berjuang karena kebenaran telah tertindas, dan telah dengan sengaja ditutupi.....'aku merasa tertindas, apakah kamu merasa hal yang sama seperti aku sebelum aku akan mulai memposting blog ini aku mohon agar di mengerti semua bahasa atau kosa kata yang penulis buat di sini tidak ada komentar buat hal tidak benar dengan kata lain tidak membrikan ijin bagi siapapun yang menipu diri orang lain berarti telah menipu dirinya sendiri.........................
"Hikmat Dan Didikan Bersumber Dari'Nya" Amsal 1:7

Perjuangan Bangsa Papua

Kamis, 16 Januari 2014

Kata Marinus: Kedatangan Delegasi MSG Akan Mempercepat Referendum Bagi Papua

JAYAPURA - Pengamat Hukum Internasional dan Sosial Politik Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Cenderawasih (Fisip Uncen) Jayapura, Marinus Yaung, mempertanyakan, kunjungan delegasi kelima Menteri Luar Negeri Anggota Foreign Ministers Mission (FMM) Melanesian Spearhead Group (MSG), bahwa apakah MSG diharapkan nantinya akan memberikan hasil positif terhadap kesuksesan diplomasi Indonesia yakni dengan ditolaknya Proposal WPNCL untuk menjdi anggota MSG.  Atau apakah harapan ini akan terjadi nanti pada sidang tahunan MSG tertanggal 14 Maret 2014, yang bertepatan ulang tahun MSG ke-26. Ataukah sebaliknya, WPNC akan terima sebagai Anggota ke-6 dari organisasi MSG?.
Menurut analisisnya, bahwa kemungkinan diplomasi Indonesia akan gagal untuk yang kesekian kalinya dan WPNCL akan diterima sebagai anggota MSG karena agenda utama kunjungan delegasi MSG adalah ingin memastikan apakah di Papua telah terjadi pelanggaran HAM berat seperti terjadinya genosida dan kejahatan terhadap kemanusiaan serta apakah di Papua diberlakukan darurat militer dan darurat perang atau tidak.
Karena isu-isu ini yang dikampanyekan oleh elite politik Papua di luar Negeri, terutama di -negara MSG untuk mendukung perjuangan kemerdekaan Papua. Agenda utama MSG ini yg menurut analisanya bahwa tidak berhasil dipenuhi oleh Pemerintah Indonesia karena delegasi MSG tidak dijadwalkan ke tempat-tempat yang akan membuktikan apakah terjadi pelanggaran HAM berat di Papua atau tidak.
Tempat-tempat tersebut antara lain lembaga pemasyarakatan Abepura, Pengadilan Negeri Jayapura, Kantor KPA Provinsi Papua untuk memastikan berapa jumlah orang asli Papua yang terinfeksi penyakit HIV/AIDS, dan Juga Kantor Dinas Kesehatan Provinsi Papua untuk memastikan berapa jumlah ibu dan anak yang meninggal karena kekurangan gizi di Papua, dan juga harusnya bertemu dengan LSM-LSM Penggiat HAM di Papua seperti JDP, ALDP, ELSHAM, KONTRAS dan KOMNAS HAM.
  Kemudian, delegasi MSG seharusnya diantar ke Timika dan Wamena atau Puncak Jaya untuk memastikan kebenaran apakah di Papua diberlakukan darurat militer dan darurat perang atau tidak.
  “Tapi semuanya itu tidak dilakukan Pemerintah Indonesia, malah membawa ke tempat-tempat lainnya yang sengaja untuk menyembunyikan terjadinya pelanggaran HAM. Ironisnya juga bahwa dalam sejarah pesawat mendarat di Bandara Sentani pukul 05.00 WIT disaat orang masih tidur dan pulang ke Bandara Sentani menggunakan Helikopter,” ungkapnya kepada Bintang Papua di Kampus Fisip Uncen Waena, Rabu, (15/1).
  Dirinya memang cukup heran dengan pikiran pemerintah yang menjadwalkan delegasi MSG harus mengunjungi sekolah SMK, Bank Papua, Kantor Gubernur Papua, DPRP, apakah ditempat-tempat ini ada terjadi pelanggaran HAM berat? Apakah darurat militer terjadi ditempat-tempat yang seperti itu? Sangat aneh dan tidak masuk di akal kebijakan Pemerintah Indonesia ini.
  Oleh sebab itu, dirinya mengingatkan Pemerintah Indonesia melalui media massa ini bahwa kalau sampai Maret nanti Papua diterima sebagai anggota MSG karena WPNCL berhasil meyakinkan negera-negara anggota MSG bahwa telah terjadi pelanggaran-pelanggaran HAM berat di Papua, maka itu bukan kesalahan orang Papua tapi itu kesalahan diplomasi Indonesia.
Bahkan perlu ditegaskan bahwa dirinya cukup kecewa dengan kebijakan Presiden SBY dan Kementerian Luar Negeri RI yang begitu mudahnya menginjinkan delegasi MSG masuk ke Papua. Kalau delegasi datang karena akan melakukan studi banding tentang keberhasilan pembangunan di Papua dalam payung hukum undang-undang otonomi khusus Papua, baginya tidak jadi masalah, tetapi mereka datang dalam rangka melibatkan diri dalam penyelesaian masalah tuntutan politik Papua Merdeka oleh orang Papua. Masalah Papua jelas menjadi masalah dalam negeri, kedatangan delegasi MSG merupakan bentuk intervensi langsung negara asing terhadap masalah domestik Indonesia dan hal ini telah melanggar piagam PBB tentang Asas Non Intevensi dan juga telah melanggar Asas Hukum Internasional yakni Asas Courtesy, Asas Saling Menghormati dan Saling Menjaga Kehormatan Masing-Masing negara merdeka dan berdaulat di dunia. 
Menurut hematnya, ini kesalahan fatal dalam hubungan luar negeri Indonesia dan Papua bukan akan semakin terintegrasi dalam NKRI pasca kunjungan delegasi MSG, malah sebaliknya Papua akan cepat meluncur kepada tuntutan politik yang lebih besar yakni referendum.
  Pasalnya, sudah menjadi rahasia umum dalam studi hubungan internasional bahwa politik referendum selalu berawal dari keterlibatan negara asing dalam penyelesaian masalah isu domestik suatu negara dalam bentuk kunjungan persahabatan dan akan berakhir dengan dibawahnya isu domestik tersebut dalam arena politik internasional yang pada gilirannya isu internasional tersebut diselesaikan melalui referendum.
“Papua sedang diskenariokan dalam jalur politik tersebut oleh Negara-negara MSG, dan Pemerintah Indonesia turut memuluskannya, karena mengizinkan delegasi MSG ke Papua, dan kedatangan delegasi MSG tidak dibawa ke tempat-tempat yang membuktikan terjadinya pelanggaran HAM. Permasalahan HAM kenapa ditutup-tutupi, ini kesalahan fatal Pemerintah Indonesia,” tandasnya.

MSG Datang Bukan Berarti Masalah Papua Selesai
Sementara itu Ketua Komisi A DPRP, Ruben Magay menyampaikan rasa kekecewaannya kepada pemerintah pusat karena tidak mengundang DPRP atas kunjungan Menteri Luar Negeri (Menlu) Melanesian Sprehead Group (MSG) ke Papua, Selasa (14/1) kemarin lalu.
Dengan tidak diundangnya DPRP oleh Pemerintah Pusat, Ruben Magay merasa tidak menganggap dirinya bersama rekan-rekannya sebagai anggota DPRP selaku wakil rakyat.
Ketua Komisi A DPRP, Ruben Magay
Untuk itu dirinya, menilai bahwa kedatangan MSG ke Papua seperti pencuri karena rakyat belum ketemu dengan MSG. “Saya katakan bahwa, saya merasa kecewa atas nama DPR Papua, Parlemen Papua dan rakyat Papua karena mereka tidak ketemu langsung dengan Bapak,”  ungkap Ruben kepada wartawan diruang kerjanya, Rabu (15/1) kemarin.
Ruben menegaskan, kedatangan MSG harus DPRP mengetahui karena yang diketahui bahwa MSG datang ke Papua berbicara masalah ras Melanesia, mulai dari Ambon Papua dan NTB. “Ini kita tidak tahu apakah mereka datang dalam hal bekerjasama di bidang ekonomi atau datang ada tujuan lain, ini patut kita pertanyakan,” katanya kecewa.   Walaupun bagi dia tidak undang oleh pemerintah pusat, tapi sebelumnya diketahui bahwa kedatangan MSG datang berbicara politik dan Papua dijadikan sebagai keanggotaan dalam ras Melanesian dalam kawasan pasifik, namun semua terbalik bahwa kedatangan mereka tanpa ada alasan yang jelas.
Dengan demikian, dirinya tidak terlalu mempersoalkan Pemerintah tidak mengundang DPRP atas kunjungan MSG tersebut, dan bukan berarti MSG ke Papua masalah telah selesai. “MSG datang bukan berarti masalah Papua sudah selesai. Saya yakin itu tidak akan selesai, karena rakyat menginginkan kehadiran MSG benar-benar ketemu mereka dalam kondisi apapun,” pungkasnya.

Sumber: http://bintangpapua.com/index.php/lain-lain/k2-information/halaman-utama/item/12220-marinus-kedatangan-delegasi-msg-bentuk-intervensi-asing




INGIN MELIHAT BERITA DIBAWAH INI, SILAKAN DI KLIK DI LING DI BAWAH GAMBAR TERSEBUT :
http://tabloidjubi.com/2014/01/13/delegasi-negara-negara-melanesia-tiba-pukul-05-20-wit-dengan-pesawat-non-reguler/







http://tabloidjubi.com/2014/01/13/delegasi-msg-datang-pejabat-tak-mau-berkomentar/


http://tabloidjubi.com/2014/01/13/kunjungan-negara-negara-melanesia-dijaga-ketat/

Rabu, 15 Januari 2014

SOCRATES YOMAN : INDONESIA MENGHANCURKAN MARTABAT ORANG PAPUA “DENGAN” PENANGKAPAN SEJUMBLAH AKTIVIS HAM DI PAPUA


Jayapura, 13/1“Di Papua tidak ada lagi kebebasan. Rakyat Papua benar-benar ditindas, benar-benar dijajah, ruang kebebasan berekspresi untuk orang Papua benar-benar dibungkam, serta martabat orang Papua dihancurkan dan diinjak-injak oleh pemerintah Indonesia,”
 

Hal ini ditegaskan oleh Ketua Persekutuam Gereja-gereja Baptis di Papua (PGBP), Pendeta Socrates Sofyan Yoman saat dihubungi melalui telepon genggamnya oleh tabloidjubi.com pada Senin (13/1/2013) di Jayapura, Papua.
Dikatakannya, penangkapan terhadap puluhan aktivis Papua oleh aparat tadi pagi adalah bukti bahwa Indonesia bukan negara demokrasi. “Dari sisi positif dari penangkapan puluhan aktivis tadi adalah melalui penangkapan itu Indonesia sudah menunjukkan kebodohannya bahwa Indonesia bukan lagi negara demokrasi tetapi negara yang menggunakan kekuatan negara untuk menindas rakyat Papua,” jelasnya.
Sementara itu, Usman Yogobi, aktivis kemanusiaan di Papua saat ditemui tabloidjubi.com pagi tadi di Taman Imbi, Jayapura, mengatakan bahwa delegasi MSG datang bukan karena soal kesejahteraan atau hubungan bilateral kedua negara tetapi karena persoalan politik Papua dan pelanggaran HAM yang terjadi selama puluhan tahun di Papua Barat. ” Delegasi MSG datang ke papua bukan karena kesejahteraan tetapi murni karena masalah status politik Papua Barat yang tidak jelas dan pelanggaran HAM yang terus terjadi dari tahun ke tahun,” tegasnya.                   
Masa Berdemo Di Depan MRP

Markus Haluak
Penangkapan terhadap Markus Haluk dan puluhan aktivis pro Papua tadi adalah tindakan pembungkaman dan tindakan yang mempermalukan Indonesia yang sering menamakan dirinya sebagai negara demokrasi. “Penangkapan terhadap aktivis Papua yang dilakukan oleh negara melalui aparat itu adalah tindakan yang mempermalukan Indonesia dimata dunia,” tutur Yogobi.
Masa Meminta Pembebasa Akibat Penangkapan Yanga Dilakuakan Oleh Polisi Terhadap 43 Masa Termasuk Markus Haluk Yang Ditangkap Oleh Polisi

Surat Terbuka Rakyat Dan Bangsa Papua Kepada Presiden Indonesia Sby DITULIS OLEH KETUAH SINODE BAPTIS SELAKU TOKOH AGAMAH DI PAPUA, Socratez Sofyan Yoman


Jayapura,  Ketua Umum Badan Pelayan Pusat Persekutuan Gereja-gereja Baptis Papua, Socratez Sofyan Yoman menulis surat terbuka singkat untuk Presiden Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) terkait kunjungan Menteri Luar Negeri negara-negara anggota Melanesia Spearhead Group (MSG) di Papua, Senin, (13/1/14).

Berikut surat Yoman untuk SBY.

Kepada yang Terhormat Bapak Presiden RI, H. Dr. Susilo Bambang Yudhoyono di Jakarta.

Saya memberikan apresiasi dan hormat kepada bapak atas undangan dan sekaligus memberikan kesempatan kepada para Menteri MSG berkunjung ke Papua. Rombongan telah tiba di Airport Sentani Papua pada 13 Januari 2014 jam 5.20 WIT.

Yang HARUS saya tanyakan dan protes adalah mengapa tamu terhormat ini tiba pada jam 5.20 WIT? Apa yang dihindari dan disembunyikan? Menghindari siapa? Ini sejarah baru di Papua pesawat membawa tamu terhormat tiba jam 5.20 WIT.

Kejadian ini sangat memalukan dan menimbulkan banyak pertanyaan untuk kita semua. Semoga kebenaran dan keadilan akan berbicara pada waktunya di Papua dan di Indonesia.

Terima kasih. Tuhan memberkati kita semua
.

Selasa, 14 Januari 2014

ANDREAS HARSONO : PENANGKAPAN SEJUMLAH AKTIVIS PAPUA, IKLAN BURUK BAGI INDONESIA

 
Andreas Harsono, peneliti Indonesia dari Human Rights Watch
Jayapura, 13/1 (Jubi)- Penangkapan terhadap Markus Haluk, Sekjen AMPTPI dan sejumlah aktivis Papua oleh aparat saat hendak melakukan demonstrasi penjemputan delegasi MSG di depan kantor Dewan Perwakilan Rakyat Papua (DPRP) adalah bukti bahwa Indonesia tidak menghargai kebebasan orang untuk berekspresi.
“Penangkapan ini mencerminkan pelanggaran terhadap kebebasan berekspresi di Papua yang dijamin oleh hukum Indonesia maupun konvensi internasional.” kata Andreas Harsono, peneliti Indonesia dari Human Rights Watch, Senin (13/1).
Menurut Andreas, penangkapan ini justru menjadi bukti buat delegasi MSG bahwa hak-hak orang Papua sering dilanggar oleh aparat keamanan Indonesia.
Selama tidak ada aksi anarkis, lanjut Andreas,  kebebasan dan hak orang untuk berpendapat harus dihormati.
“Aparat harus hormati hak orang berpendapat. Selama mereka tak lakukan kekerasan, selama tak ada bakar-bakar atau pukul orang, selama itu pula tak boleh ada penangkapan,” tegas wartawan senior di Indonesia ini.
“Pemerintah Indonesia harus hormati hak orang Papua. Alasan MSG datang ke Jayapura karena pemerintah menawarkan MSG lihat sendiri keadaan di lapangan. Kok orang protes malah ditangkap? Ini iklan buruk buat Indonesia,” tambahnya lagi.
Di tempat berbeda, Ketua Persekutuan Gereja-gereja Baptis di Papua (PGBP), Pendeta Socrates Sofyan Yoman berpendapat di Papua tidak ada lagi kebebasan. Rakyat Papua benar-benar ditindas, benar-benar dijajah, ruang kebebasan berekspresi untuk orang Papua benar-benar dibungkam, serta martabat orang Papua dihancurkan dan diinjak-injak oleh pemerintah Indonesia.
“Dari sisi positif dari penangkapan puluhan aktivis tadi adalah melalui penangkapan itu Indonesia sudah menunjukkan kebodohannya bahwa Indonesia bukan lagi negara demokrasi tetapi negara yang menggunakan kekuatan negara untuk menindas rakyat Papua,”kata Socratez.


Mau Lihat Persoalan MSG Datang Kepapua Silakan Ling Dibawah Ini