Mengenai Saya

Ketika kita diam maka semua sepertinya tidak ada persoalan tetapi ketika kita bersuara maka mereka akan tau bahwa kita mempunyai persoalan, yang harus di selesaikan. Kebenaran harus ditegakan, untuk mendapatkan kebenaran harus berjuang karena kebenaran telah tertindas, dan telah dengan sengaja ditutupi.....'aku merasa tertindas, apakah kamu merasa hal yang sama seperti aku sebelum aku akan mulai memposting blog ini aku mohon agar di mengerti semua bahasa atau kosa kata yang penulis buat di sini tidak ada komentar buat hal tidak benar dengan kata lain tidak membrikan ijin bagi siapapun yang menipu diri orang lain berarti telah menipu dirinya sendiri.........................
"Hikmat Dan Didikan Bersumber Dari'Nya" Amsal 1:7

Perjuangan Bangsa Papua

Selasa, 31 Desember 2013

Bohongan Public "Freeport" Aparat Pemerinta Indonesia Pelaku'Nya

Areal Freeprot

Papua dalam semua kasus penembakan maupun pembunuhan cendrung tanpa penyelesaian yang jelas seperti sebuah kasus yang suda atau sebelunya perna terjadi di areal Freeport. 
Aparat penembakan itu di’tuduh dari warga masyarakat atau opm yang sering membuat penembakan tersebut, tapi polisi tidak bisa menyelesikannya atau menangkap pelaku yang melakukan hal tersebut, kalau mau dilihat semacam sebuah proyek yang cukup lumayan mengeluarkan dana yang besar terhadap polisi maupun tentara yang mengamankan areal tersebut yang dikeluarkan oleh freeport dalam menjaga keamanan, permainan ini suda tidak lazim lagi bagi orang asli papua yang sering dan suda banyak mendapatkan perlakuan tidak adil di papua terkusus di area freeport, bahkan pemerintah tak’bisah membuat freeport ditutup atau mengikuti keinginan pemerinya yang membagi hasil yang lebih kepada papua, masayarakat papua bahkan dengan seenaknya menjadi korban penipuan dari aparat dan pemerinta indonesia serta amerika dalam hal ini freeport tersebut, tapi kami sebagai orang asli papua percaya bahwa papua akan merdeka dan semua rahasia yang terselubung dalam pembunuhan orang asli papua yang selalu mati semua akan kelihatan dan akan diketahui oleh mata dunia jadi sudah seharusnya indonesia itu sadar dan melakukan hal-hal yang benar.
Seperti sebuah kasus di’bawah ini................

(PAPUA) Sebanyak tujuh truk trailer diberondong peluru oleh kelompok bersenjata di areal Freeport, Papua. Dalam kejadian tersebut, tidak ada korban jiwa.
"Betul telah terjadi peristiwa penembakan di areal Freeport pada hari Jumat tanggal 27 Desember 2013 sekitar pukul 13.30 WIT di mile 41. Korban jiwa nihil," ujar Kabid Humas Polda Papua, AKBP Sulistyo Pudjo Hartono via pesan singkat, Jumat (27/12).
Sulistyo Pudjo Hartono

Menurut Pudjo, meski mendapat serangan tersebut, seluruh trailer tetap melanjutkan perjalanan ke mile 50.
Berikut daftar trailer yang terkena tembakan kelompok bersenjata:
1. Trailer no lambung 02 xxx, kena kaca pintu kanan.
2. Trailer 02-0868 kena kaca pintu kanan.
3. Trailer 02-0956, kena blower AC.
4. Trailer 02-1014, kena pintu kanan.
5. Trailer 02-0896, kena pintu kanan
6. Trailer 02-1097, kena kap mesin.
7. Trailer 02-0826, kena kap di atas ban depan kanan.




Selasa, 24 Desember 2013

Gubernur PNG Menerima Bendera Papua Dan Mengibarkanya


PORT MORESBY- Gubernur Port Moresby, Papua Nugini, Powes Parkop mengibarkan bendera Bintangf Kejora, bendera yang merupakan lambang gerakan Papua Merdeka, di tengah peringatan Perdana Menteri Peter O'Neill untuk tidak melakukan hal tersebut.
Sebelumnya, pihak Kepolisian Port Moresby memperingatkan pengungsi Papua untuk tidak melakukan aksinya, namun peringatan itu tidak diindahkan.
Pawai berlangsung di jalan-jalan kota itu, dan berakhir di Balai Kota Port Moresby, Minggu (1/12).
Di tempat itulah, Gubernur Powes Parkop melakukan pengibaran bendera Bintang Kejora.
"Rakyat sekalian, sudah 50 tahun terakhir kita diam, buta, tidak mau melihat, tidak mau mendengar, tidak mauj bicara. Namun esok hal itu harus berubah," katanya di depan massa.
PM Peter O'Neill sudah memperingatkan agar Gubernur Powes Parkop tidak mengibarkan bendera Bintang Kejora.
Tampak hadir di pawai 1 Desember itu adalah aktivis Papua Merdeka Benny Wenda dan seorang aktivis dari Australia Jennifer Robinson.
Pihak Imigrasi Papua Nugini telah mengancam warga asing di negara itu yang terlibat dalam kegiatan politik.
Ratusan pengungsi Papua kini berada di Port Moresby, dan melakukan pawai 1 Desember menuntut kemerdekaan dari Indonesia.

Minggu, 10 November 2013

West Papua: Persoalan Internasional

  PAPUA-- Tokoh Gereja Baptis Papua, Pendeta Socratez Sofyan Yoman meluncurkan buku barunya berjudul, ‘West Papua: Persoalan Internasional’di Abepura, Papua, Rabu (30/11).Buku ini merupakan buku kesebelas hasil tulisannya yang pernah dimuat media lokal.
Kepada wartawan, ia mengatakan, buku ini merupakan salah satu bentuk pendidikan politik, dan perwakilan suara warga gereja yang ada di Papua.

“Buku ini merupakan rekaman dan isi hati orang Papua. jadi, ditulis sesuai misi, dan panggilan gereja,” kata Socratez.

Buku dengan 98 halaman ini mengulas berbagai persoalan di Papua, di antaranya, status politik dan sejarah integrasi Papua yang dinilai rekayasa dan sarat kepentingan militer.

Selain itu, seperti ditulis dalam sinopsis buku dengan sampul pulau Papua yang ditancap bendera PBB, Amerika Serikat, Belanda, Indonesia, dan Bintang Kejora ini, mengulas persoalan yang berdimensi internasional, bukan persoalan internal Indonesia.

Karena, kata dia, PBB, Amerika, dan Belanda terlibat dalam integrasi Papua puluhan tahun silam itu.

Selanjutnya, buku terbitan Cendrawasih Press ini membahas persoalan Papua ke ranah hukum internasional, dan kejahatan kemanusiaan, serta pelanggaran Hak Asasi Manusia yang dilakukan oleh Negara.

Menurut Ketua Gereja Baptis Papua ini, salah satu langkah konkret untuk membahas masalah Papua adalah melalui dialog yang bermartabat, tetapi, bukan soal NKRI harga mati, atau Papua Merdeka harga mati.

Dialog, menurut dia, dialog yang dimaksud merupakan kerangka dialog yang kreatif, yang dimediasi pihak ketiga sebagaimana rekomendasi Konferensi Perdamaian Papua (KPP) 5-7 Juli lalu di auditorium Universitas Cenderawasih (Uncen).

Wakil Ketua Komisi Nasional Hak Asasi Manusia perwakilan Papua, Matius Murib mengatakan, buku tulisan Pendeta Socratez merupakan bentuk pendidikan politik bagi generasi muda Papua.

“Buku ini alat pendidikan, entah ditanggapi apa. Tapi, ini bagian dari pendidikan,” kata Matius yang hadir saat bersamaan.

Lain halnya dengan salah satu tokoh Papua, Nick Messet. Menurut Nick, buku Socratez ini ada benarnya, tetapi masalah Papua bukan masalah internasional.

“Masalah internasional tidak ada,”katanya seraya menambahkan terkecuali sebelum tahun 1969 tetapi saat ini masalah Papua sudah selesai dan tidak termasuk dalam dekolonisasi PBB.

Ketua Gereja Kemah Injil di Tanah Papua, Pendeta Benny Giay mengatakan, tulisan dalam buku ’ West Papua: Persoalan Internasional’ adalah rekaman suara umat.Menurut Benny Giay mestinya tulisan soal sejarah dan perjalanan suatu bangsa merupakan tanggungjawab sejarahwan dan perguruan tinggi tetapi mengapa sampai pendeta yang berani tampil menjawab persoalan umat. 
 
 

Senin, 04 November 2013

BOEDIONO DISAMBUT BINTANG KEJORA DI OXFORD


Jayapura, 31/10 – Lokasi ujian Universitas Oxford, Inggris menjadi tempat berunjukrasa aktivis Papua Merdeka di Inggris, Rabu (30/10).
Aktivis Papua Merdeka ini berunjuk rasa saat kedatangan Wakil Presiden Indonesia, Budiono, yang diundang oleh Universitas Oxford untuk berbicara tentang  Transformasi Indonesia : Tantangan Pemerintahan Yang Baik dan Pembangunan Ekonomi. Mereka membawa spanduk dan dan mengibarkan bendera Bintang Kejora di pintu masuk utama universitas.
Serogo Tabuni, pemimpin para pengunjukrasa ini, seperti dilansir situs http://oxfordstudent.com, mengatakan, “Indonesia telah secara ilegal diduduki Papua Barat selama lima puluh tahun, dan pembunuhan, penyiksaan dan intimidasi masih terjadi sampai hari ini. Tidak ada demokrasi dan tidak ada jurnalisme yang terbuka di Papua Barat. Bahkan organisasi seperti Palang Merah dan  Amnesty dilarang.”
Serogo menambahkan bahwa orang Papua tidak akan pernah menyerah melawan kolonialisme Indonesia untuk menentukan nasib sendiri. Para pengunjukrasa ini mengklaim kampanye mereka telah mendapat dukungan dari tokoh masyarakat di Oxford termasuk Walikota Oxford dan mantan Uskup Oxford.
Lauren Horswell, warga Inggris yang mendukung Gerakan Papua Merdeka, berpendapat sangatlah ironis sementar situasi di Papua Barat memprihatinkan namun pihak universitas malah mengundang Wakil Presiden Indonesia untuk berbicara mengenai good governance.
“Mereka (Universitas-red) harus berpikir tentang orang-orang yang mereka ajak bicara dan pesan-pesan yang mungkin mereka bawa. Dan meminta mereka untuk mempertimbangkan beberapa perspektif yang berbeda.” lanjut Horswell, memberikan saran buat Universitas Oxford.
“Saya tidak punya masalah dengan Wakil Presiden yang diberi platform untuk berbicara, tetapi kampanye seperti ini harus diberikan platform juga.” tambah Horswell.
Charlie Silver, seorang mahasiswa kimia mengaku tidak tahu apa yang sedang terjadi di Papua.
“Tapi tampaknya ini merupakan sesuatu yang diakui. Ini akan menarik untuk mengetahui lebih banyak dan melihat apakah para pengunjuk rasa memiliki sesuatu yang valid dalam kasus mereka.” kata mahasiswa Oxford ini.
Kuliah Dr Boediono di Universitas Oxford ini merupakan bagian dari program yang diselenggarakan oleh Universitas Blavatnik School of Government.


Sumber :  http://tabloidjubi.com/2013/10/31/boediono-disambut-bintang-kejora-di-oxford/