Sidang tahunan Perserikatan Bangsa Bangsa, 28 September 2013, ketika perdana menteri Vanuatu, Moana Karkas Kalosil, mengajak debat forum Majelis Tinggi PBB. Hari ini, Vanuatu meminta PBB untuk menunjuk seorang Wakil Khusus untuk menyelidiki dugaan pelanggaran hak asasi manusia di propinsi Papua Indonesia, dan status politik mereka. Pidato dari salah satu negara di Pasifik tersebut oleh Perdana Menteri telah menyatakan bahwa Papua Barat telah secara konsisten membantah pengakuan PBB (terkait hasil PEPERA).
Pidato Vanuatu di forum PBB 2013, salah satu
dari 3 negara yang pernah saya muat pada artikel saya sebelumnya, bahwa
Vanuatu, Salomon Island dan Fiji siap bicara masalah Papua pada Sidang
Tahunan PBB September 2013. Dan kini, satu dari tiga negara dimaksud
telah menyanggupi suara saya dari sini, heheh.
Munculnya Kalosil lebih berani ketimbang
perdana menteri sebelumnya. Dengan demikian, sikap dukungan ini
merupakan wujud nyata dari salah satu dari 165 negara anggota PBB.
Masalah Papua Barat sudah menjadi agenda dunia. Sikap lebih khusus dari
Vanuatu, ketimbang negara lainnya yang cenderung membahas isu isu formal
dunia seperti gender, HAM, Perdamaian, kasus Suriah dan masalah
kerjasama negara negara.
Pada bulan Mei Komisaris Tinggi PBB untuk Hak
Asasi Manusia, Navi Pillay, menyuarakan keprihatinan atas tindakan
kekerasan militer Indonesia terhadap para penduduk sipil Papua, yang
melakukan demonstrasi damai dan menyerukan, kepada Pemerintah Indonesia
untuk meminta pertanggungjawaban mereka yang bertanggung jawab atas
kekerasan yang terjadi. Sampai saat ini (SU PBB) Belum ada transparansi
yang memadai dari pemerintah Indonesia dalam menangani pelanggaran berat
hak asasi manusia di Papua, katanya.
Tragedi Suriah dan Papua
Perdana menteri juga meyakinkan bahwa masalah
Papua tak jauh beda dengan isu Suriah saat ini. Perdana Menteri Moana
Karkas Kalosil kepada Debat Umum Tahunan Majelis Umum PBB, “Kita
sekarang berunding tentang masalah Suriah, tapi ketika datang ke masalah
hak-hak rakyat Papua Barat, suara kami patut didengar, bahkan dalam
podium ini. Mengacu pada perang saudara yang telah menewaskan sekitar
120.000 penduduk Suriah.
“Bagaimana kita kemudian mengabaikan ratusan ribu
orang Papua Barat yang telah secara brutal dipukuli dan dibunuh? Lanjut
Kalosil, orang-orang Papua Barat berharap kepada PBB sebagai harapan
tertinggi. Jelas dari banyak catatan sejarah bahwa orang
Melanesia Papua Barat adalah kambing hitam politik perang dingin dan
dikorbankan untuk memuaskan nafsu makan untuk sumber daya alam yang
memiliki negara ini, kata Mr Kalosil. Hari ini mereka masih menjadi
korban ketidaktahuan PBB.
Moana Karkas pun, menyerukan kepada dunia
“mari kita, para rekan pemimpin negara, dengan keyakinan moral yang sama
menghasilkan dukungan kami terhadap penderitaan orang Papua Barat.
Sudah saatnya bagi PBB untuk bergerak melampaui batas dan memperbaiki
beberapa kesalahan sejarah.
Sementara itu, pada pertemuan Dewan Gereja Sedunia (WCC), 27 September 2013, Rev. Socratez Sofyan Yoman (berdiri di podium), juga berdebat soal masalah kemanusiaan di Papua. Dia mengatakan, Papua menginginkan perdamaian dan selalu menghormati manusia lain sepanjang zaman.
Acara ini membawa bersama sejumlah organisasi masyarakat berbasis agama
dan sipil, pemimpin gereja dari Tanah Papua, aktivis perdamaian dan
pejabat PBB, 23-24 September di Jenewa, Swiss. Konsultasi mendesak
perlindungan hak asasi manusia di Papua. Pdt Socratez Sofyan Yoman
berbicara pada konsultasi hak asasi manusia dan perdamaian bagi Papua di
Pusat Ekumenis, Jenewa.
Konsultasi di Jenewa disebut dialog politik
sebagai satu-satunya jalan menuju perdamaian dan stabilitas di Tanah
Papua, sebuah provinsi di Indonesia. Wilayah ini tetap fokus ketegangan
antara pemerintah Indonesia dan orang-orang asli Papua selama
bertahun-tahun yang mengakibatkan pelanggaran HAM berat. Konsultasi
berjudul “Hak Asasi Manusia dan Perdamaian Papua” yang diselenggarakan
oleh Koalisi Internasional untuk Papua (ICP), sekelompok organisasi
masyarakat berbasis agama dan sipil.
Tentara Bayaran Papua Merdeka Bebas
Sebelumnya dari Australia dilaporkan bahwa
Gerard Michael Little, 46 tahun, warga Melbourne, Australia, divonis
bersalah dan dijatuhi hukum tujuh bulan penjara di pengadilan negeri
Kota Brisbane, Kamis (26/9/2013) dengan tuduhan mempersiapkan diri
menjadi tentara bayaran untuk Organisasi Papua Merdeka (OPM). Namun,
karena vonis itu sejalan dengan lamanya masa tahanan, ia langsung dibebaskan. Hakim
Douglas McGill mengatakan, upaya Little untuk menjadi pejuang
kemerdekaan hanyalah fantasi. Masa tahanan selama 218 hari, kata Hakim
McGill, sudah lebih lama dari vonis yang dijatuhkan atas perbuatannya
itu.
Little, yang berupaya
untuk menjadi tentara bayaran demi melawan militer dan polisi Indonesia
di Papua, dinyatakan bersalah karena mempersiapkan diri untuk menerobos
ke negara lain. Ia ditangkap saat akan terbang ke ibukota Papua Nugini,
Port Moresby, Desember lalu. Sejak itu, ia ditahan dan menjalani proses
persidangan. Little pernah menjalani pelatihan militer lima hari di
Ukraina, dan sesumbar di media sosial bahwa dirinya berpangkat Kolonel
di gerakan OPM.
Diplomasi OPM Versus Pemerintah RI
Pemerintah Indonesia terus berupaya agar
masalah Papua tak ada lagi yang mengusiknya. Plebilisit PEPERA dari
perjanjian Newyork melahirkan resolusi PBB 2405, pedoman sejarah bagi
negara Indonesia. Namun, konteks Hak Asasi Masnusia, dunia, khususnya
negara seperti Vanuatu terus mempersoalkannya di PBB.
Organisasi Papua Merdeka yang dahulunya dianggap
gerakan pengacau keamana (GPK) oleh republik Indonesia, justru kini
mengudara di belahan negara. Pasisifk Selatan (Vanuatu) sudah
menunjukkan taringnya. Bukan lagi lembaga swadaya masyarakat yang
bicara, tetapi negara dan “Konstitusional”. Beda dengan
kampanye Papua di Belanda, Inggris dan Australia, sampai sekarang masih
sebatas suara para pemerhati dari kalangan NGO.
Dari dalam negri, pemerintah Indonesia sedang
melakukan evaluasi perjalanan 12 tahun otonomi khusus Papua. Pada
nantinya, apakah sesuai harapan atau tidak, namun, perhatian serius
negara dalam bingkai otsus belum tentu menjadi intrumen peredam Papua
merdeka.
Perlu diperhatian, mandeknya upaya
solusi menyelesaikan masalah Papua ini memicu dunia menyatakan
keberpihakan mereka terkait penentuan nasib sendiri orang Papua.
Pemerintah dianggap “diam” menyanggupi tuntutan orang Papua selama ini
agar duduk bersama bicara masalah Papua. Namun, dijawab oleh
pemerintahan Jakarta, melalui regulasi UP4B, UPK, ruas Jalan, pembiayaan
dari APBN meningkat dan seterusnya.
Militer yang tadinya dkritik pada forum PBB sebagai dalang dibalik menguatnya pelanggaran HAM, justru saat ini menjadi buruh “padat karya”
di Papua. Apakah ini akan menjadi balasan diplomatik pemerintah bahwa
tentara kami sudah tidak pukuli demonstran dan menakuti rakyat sipil
Papua tetapi mereka sudah kami suruh urusin jalan di Papua.
![]() |
| Kiri: Gerald Little, Tentara Bayaran Papua Merdeka yang di Vonis Bebas. Kanan: Duduk pegang Bendera Papua Merdeka, Perdana Menteri Vanuatu bersama diplomat Papua dari WPNCL |
Sumber PBB:
Sumber Genewa:
Sumber Australi:
Sumber Kompasiana:
http://luar-negeri.kompasiana.com/sidang-umum-pbb-2013-sambut-papua

Tidak ada komentar:
Posting Komentar